GUNUNG BUKAN PEMBUNUH

Gunung adalah Guru terbaik yang mengajarkan kehidupan, bukan pembunuh berdarah dingin yang mencekik dan membantai para penjamahnya.

Saya bukanlah seseorang pendaki gunung yang hebat dan handal, saya juga tidak begitu banyak mempunyai pengalaman dalam hal pendakian Gunung. Pendakian pertama saya pada tahun 2013 dimana saya masih duduk di bangku SMA, dengan tujuan Gunung Kerinci.

Gunung Kerinci adalah Gunung api tertinggi di Indonesia dan juga puncak tertinggi setelah Papua yang merupakan salah satu bagian dari Seven Summitnya Indonesia dengan memiliki ketinggian 3805 Meter di atas permukaan laut.

Pendakian gunung sudah dilakukan pada zaman dahulu “sebelum kita menyombongkan diri” di lakukan dengan orang-orang hebat tanpa mengesampingkan keselamatan walaupun perlengkapan pendakian gunung tidaklah sekompleks seperti sekarang.

Menurut pandangan saya, maraknya pendakian Gunung terjadi pada akhir 2012 di mana rilisnya film yang berjudul 5CM yang menceritakan 5 anak muda yang melakukan pendakian Gunung Semeru. Tak lama kemudian pada pertengahan tahun 2013 muncul film dokumenter yang berjudul MY TRIP MY ADVENTURE yang menggambarkan petualangan dan eksplorasi keindahan alam Indonesia, Secara tidak langsung para anak muda beramai-ramai melakukan pendakian Gunung dan bertualang.

Pendakian Gunung Kerinci 13 Juli 2018

Banyak dari para pendaki tidak begitu mementingkan keselamatan ataupun savety nyaperjalanan, baik itu dari manajemen perjalanan, ilmu tentang pendakian gunung, peralatan standar pendakian, fisik yang harus kuat, mental yang perlu di latih atau pun wawasan dan pengetahuan dalam pendakian gunung, demi hanya mendapatkan foto-foto yang kece di puncak gunung.

Dengan kurangnya pengetahuan atau tidak mementingkan prosedur pendakian sebagaimana mestinya, banyak dari mereka merenggut nyawa ataupun hilang dalam pendakian, entah itu dari Kelalaian, kesalahan mereka sendiri ataupun hal yang tidak masuk diakal.

Evakuasi Pendaki Gunung Kerinci 16 Juli 2018

Kematian di Gunung banyak di sebabkan dari Kelalaian, baik hipotermia, jatuh ke jurang, dan lain sebagainya.

Maksud dari tulisan saya yang sederhana ini adalah, untuk mengingatkan kembali kepada kawan-kawan penggiat alam bebas yang khususnya dalam kegiatan pendakian Gunung.

Mendaki Gunung bukanlah seperti main ke mall yang menggandeng tas mahal yang di pamerkan, dan mudah sekali pulang dengan selamat. Tetapi alam dan Gunung tidaklah sejahat itu, dia akan menuruti keinginanmu, kau tidak siap, maka kau akan celaka. Kau tidak sombong, dia akan senang hati menyambutmu. Kau berbuat seenaknya, dia akan membunuhmu. Kau mencintainya, dia akan menunjukkan kuasa atas keindahannya.

Pendakian bersama Avtech 2014

Menurut saya dan didukung beberapa sumber penyebab mengapa pendaki menjadi korban atas keganasan alam liar.

  • Psikologis Labil

Banyak dari pendaki dengan psikologis labil yang memaksakan sebuah perjalanan, sehingga alam pun tidak sungkan merenggut nyawa akibat sikapnya itu. Dengan emosi yang masih gonjang-ganjing, banyak pendaki pemula yang nekat membuka jalur baru tanpa sedikit pun mempunyai bekal navigasi, jangankan untuk membawa GPS dan peta topografi, kompas pun sangat jarang pendaki untuk membawanya, “hanya demi mendapatkan pujian”. Psikologis labil dengan merasa malu terlihat lemah sehingga memaksakan diri tanpa bantuan orang lain, hingga membuat mereka kelelahan dan stres dan memungkin akan hal buruk terjadi.

Sehingga petualang sembrono ini berakhir dengan tersesat, kelelahan di tengah hutan, hingga mati kedinginan. oleh sebab itu, perlulah psikologis yang matang sebelum membulatkan tekat melakukan sebuah petualangan. Jika merupakan pendakian perdana, sebaiknya mengajak teman, kerabat, orang tua yang telah berpengalaman sehingga dapat menularkan dan mengajari banyak hal tentang sebuah perndakian.

  • Buruknya manajemen perjalanan

Banyak dari pendaki tidak begitu mementingkan manajemen perjalanan dan bersikap “bodo amat”. Setiap melakukan perjalanan, khususnya dalam kegiatan pendakian gunung, manajemen perjalanan haruslah diatur sematang mungkin, dimana setiap perjalanan memerlukan perencanaan yang matang agar perjalanan berjalan sesuai dengan yang di rencanakan. Buruknya manajemen perjalanan membuat banyak para pendaki merenggut nyawa dikarenakan tidak merencanakan sesuatu dengan matang.

  • Buruknya manajemen logistik

Banyak dari pendaki menganggap mie instan adalah makanan yang tepat untuk melakukan pendakian gunung dengan mudahnya membuat mie instan dengan rasa yang enak dan memiliki banyak rasa membuat pendaki lebih memilih makanan ini. Padahal ini salah besar, bayangkan manusia membutuhkan kalori 2000kkal dalam Aktifitas biasa sedangkan dalam keadaan pendakian gunung membutuhkan kalori 2 kali lipat, yakni 4000kkal, “menurut Mbah goggle” mie instan yang sulit dicerna dan menyerap cairan tubuh mana mungkin akan mencukupi kebutuhan kalori tubuh, Ini akan menyebabkan para pendaki menjadi kelelahan, pikiran tidak stabil, lemas dan lapar yang mengakibatkan kecelakaan bahkan bisa menyebabkan kematian dalam pendakian. Sebenarnya untuk mendapatkan kalori yang begitu banyak dan seimbang dalam pendakian, butuh asupan makanan yang banyak mengandung kalori seperti daging-dagingan, coklat, madu dan lain-lain

  • Buruknya packing barang

Packing barang di dalam carriel adalah keahlian yang wajib di miliki seorang pendaki, karena Medan yang sulit membuat semua barang harus berada di dalam carriel kecuali botol minum yang sering di gunakan selama pendakian. Tangan harus leluasa dan bebas untuk bergerak untuk memegang trackpole dan memegang akar untuk bantuan apabila dibutuhkan. Tetapi banyak dari pendaki saat ini tidak melakukan hal tersebut dan menyepelekan kemampuan packing tersebut, sehingga sangat banyak pendaki yang menenteng sleeping bag, sibuk memegang botol air minum, menggantung panci di carriel, carriel yang tidak dilapisi cover bag, pakaian dan sleeping bag tidak di bungkusi plastik.

Apabila turun hujan akan mengakibatkan semua barang basah, padahal menjaga barang dan pakaian adalah hal yang sangat penting, menggunakan pakaian basah atau tidur dalam keadaan basah akan meningkatkan cepatnya terserang Hipotermia.

Hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh menurun drastis hingga di bawah 35oC. Ketika suhu tubuh berada jauh di bawah normal (37oC), fungsi sistem saraf dan organ tubuh lainnya akan mengalami gangguan. Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan gagal jantung, gangguan sistem pernapasan, dan bahkan kematian. Menurut www.alodokter.com/hipotermia

Hipotermia salah satu gejala paling ganas bagi para pendaki, dan gejala yang sering memakan korban. Jangan mengabaikan tentang hal packing barang dalam pendakian, dikarenakan sangat berpengaruh pada keselamatanmu dalam pendakian.

  • Tim yang berlebihan

Banyak bagi pendaki pemula menganggap apabila jumlah rombongan dalam pendakian yang banyak mereka mengira lebih aman saat proses pendakian dan mendapatkan izin dengan orang tua jauh lebih mudah.

Tetapi ini sangat begitu buruk apabila rombongan yang begitu banyak akan menyebabkan susahnya mengontrol anggota, sulitnya mengatur manajemen logistik, konflik antar internal, pemikiran yang berbeda-beda, inilah yang membuat kita untuk menghindari melakukan pendakian dengan rombongan yang besar.

masih banyak lagi hal-hal yang menyebabkan para pendaki banyak merenggut nyawa di atas gunung,

Sejatinya bukanlah gunung yang ingin membunuh kita, hanya saja kita yang belum siap untuk mengikuti aturan dari proses pendakiannya.

Kutipan yang pernah saya baca “ tidak ada keadaan darurat apabila kita siap”

Tulisan yang sangat sederhana ini saya buat hanya untuk mengajak kawan-kawan pendaki ataupun penggiat alam bebas termasuk saya sendiri untuk bersama-sama mempertimbangkan lagi segala kesiapan sebelum melakukan pendakian.

LESTARI……..

By : Randi Hendrian (GBC/XVIII/123)

Please follow and like us:
error